Rosalia Lombardo adalah seorang anak Palermitan yang meninggal karena pneumonia akibat flu spanyol 2 pada 6 Desember 1920.

Mario Lombardo, ayah Rosalia, yang berduka atas kematiannya, meminta Alfredo Salafia, seorang ahli taxidermist, atau pembalsem mayat untuk menyimpan jenazahnya.

Berkat teknik pembalseman Salafia, tubuh Rosalia terawat dengan baik. Sinar-X tubuhnya menunjukkan bahwa semua organnya sangat utuh, dan dianggap sebagai salah satu mimi yang paling terpelihara di dunia.

Tubuh mumi Rosalia disimpan di sebuah kapel kecil di akhir tur Katakombe dan terbungkus dalam peti mati berlapis kaca, di atas alas kayu.


Sebuah foto oleh National Geographic pada tahun 2009, menunjukkan bahwa mumi mulai menunjukkan tanda-tanda dekomposisi, terutama perubahan warna. Tubuhnya mulai mengambil tekstur kulit kuning seperti lilin.

Untuk mengatasi ini, mumi dipindahkan ke tempat yang lebih kering, dan peti mati aslinya ditempatkan di selungkup kaca yang tertutup rapat dengan gas nitrogen untuk mencegah pembusukan.

Dia terlihat seperti bayi yang tidur siang dengan damai, dengan pita di atasnya yang membuatnya terlihat seperti baru saja tidur, hal inilah yang membuatnya dijuluki sebagai "putri tidur".


Mumi ini semakin terkenal setelah munculnya laporan dari pengunjung bahwa matanya berkedip, atau matanya terbuka secara perlahan.

Beberapa percaya bahwa beberapa kekuatan supernatural berada dibalik kejadian ini, sehingga mumi itu benar-benar berkedip. Yang lain berpikir bahwa itu karena perubahan suhu di dalam katakombe, yang membuat kelopak matanya berkontraksi, dan menghasilkan efek seperti kedipan.


Menanggapi laporan ini, Piombino-Mascali (kurator Katamkombe) menyatakan :

"Ini adalah ilusi optik yang dihasilkan oleh cahaya yang tersaring melalui jendela samping, yang pada siang hari membuat subjek dapat berubah...(matanya) tidak sepenuhnya tertutup, dan itu memang tidak pernah tertutup."

Piombino-Mascali membuat penemuan ini pada tahun 2009 setelah beberapa pekerja museum memindahkan peti matinya, yang menyebabkan tubuhnya sedikit bergeser. Pergeseran ini memungkinkan Piombino-Mascali untuk melihat kelopak matanya dari sudut yang baru.

Antropolog kemudian menyadari bahwa matanya sebenarnya tidak pernah tertutup, dan itu hanya tipuan cahaya yang membuatnya tampak tertutup.

(Sumber : Rosalia Lombardo)